Satu minggu pertama setelah hari itu, saya tidak melihat Sari lagi. Ibu juga terlihat lebih tenang, dan sore hari saya habiskan untuk ikut TPA di masjid yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Setiap hari bapak atau ibu yang mengantar dan menjemput saya.
Saya belum bertemu Sari lagi. Saya juga mencarinya, tetapi tidak pernah ketemu. Waktu itu saya belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Malam hari saya tidur seperti biasa, sendirian, karena memang sudah dibiasakan oleh orang tua saya.
Tapi ternyata mulai malam itu, dan seterusnya, malam saya tidak pernah biasa lagi.
Kasur saya berada dekat jendela. Kadang ibu lupa menutup gorden, sama seperti malam itu.
Saya terbangun di tengah malam karena merasakan hawa yang aneh. Terlalu aneh untuk dibayangkan, dirasakan, dan diungkapkan oleh anak usia enam tahun seperti saya.
Saya melihat di seberang rumah ada sesosok…
Eh, bukan.
Muncul lagi satu sosok.
Bukan juga.
Mereka banyak!
Saya tidak ingat berapa jumlahnya. Yang paling saya ingat adalah sosok bermata merah, berbadan berbulu, dan memiliki tangan panjang hingga menyentuh tanah.
Mereka hanya memandang saya dengan tatapan menyeramkan.
Ada hawa kebencian yang saya rasakan.
Jarak mereka sekitar sepuluh meter dari kamar saya.
Dan seketika itu juga saya berteriak.
Saya menangis sejadi-jadinya.
Takut.
Sangat takut.
Kedua orang tua saya buru-buru datang. Bapak menggendong saya yang masih terisak-isak.
Saat digendong, mata saya masih menghadap ke arah mereka yang perlahan berjalan menjauh.
Dan yang paling belakang, saya melihat sosok kecil yang sangat saya kenal.
Saya bergumam,
“Sari…”
Malam itu saya tidur bersama orang tua saya.
Rasa takut masih menyelimuti diri saya. Ibu terus berusaha menenangkan saya dan hanya mengatakan bahwa saya mengalami mimpi buruk.
Saya mencoba menganggap itu memang mimpi buruk.
Dan tidak akan terjadi lagi.
Tapi…
Saya salah.
Salah besar!
Pagi hari, matahari sudah tinggi.
Saya berangkat sekolah. Saat itu saya masih TK.
Saya mulai melupakan kejadian semalam karena mungkin memang benar itu hanya mimpi.
Semoga memang mimpi.
Saya duduk di kelas dan sudah lupa apa saja yang saya lakukan saat TK dulu.
Tetapi ada satu hal yang sampai sekarang masih saya ingat.
Ada bangku kosong yang seharusnya berada di belakang.
Tahu maksud saya?
Ya.
Bangku itu tidak kosong lagi.
Karena ada Sari yang duduk di sana.
Saya: “Sariii!”
Sari: “Rizal…”
Saya: “Main ke depan yuk!”
Saya masih belum paham apa dan siapa sebenarnya Sari itu.
Saya: “Yahhh… ayolah. Teman-teman udah pulang.”
Sari: “Enggak. Aku juga mau pulang.”
Saya: “Rumahmu mana sihhh?”
Sari: “Aku nggak punya rumah sekarang…”
Saya: “Loh? Kamu mau tidur di rumahku aja nggak? Aku nggak ada teman di rumah.”
Sari: “Boleh.”
Saya: “Horeee! Di rumah punya teman!”
Sari hanya tersenyum.
Tapi kalau kalian melihat senyumnya, mungkin kalian akan takut.
“Eh Rizal, kok belum pulang? Malah teriak-teriak sendiri. Hayu, kenapa? Senang ya?”
Saya: “Iya Bu Guru. Rizal sekarang di rumah ada temannya, Bu. Ini namanya Sa…”
Belum sempat saya menyelesaikan kalimat, Sari yang baru saja terlihat sudah tidak ada.
Saya: “Lohhh, Sari mana?”
Bu Guru: “Sari yang mana, Rizal? Yang nol besar apa nol kecil?”
Saya: “Bukan kok, Bu Guru. Dia baru berangkat tadi.”
“Sayang, maaf ibu telat.”
Kata ibu saya yang baru datang menjemput.
Saya: “Buukk… nanti Sari mau nginep. Boleh ya? Ya? Ya?”
Ibu: “Rizal, sudah berapa kali ibu bilang? Berhenti ngomongin Sari ya, Nak.”
Saya: “Yahhh, Ibu. Rizal kan di rumah nggak punya teman.”
Bu Guru kemudian bertanya kepada ibu saya siapa Sari sebenarnya.
Dan ibu saya menjawab sambil setengah berbisik,
“Teman khayalannya Rizal, Bu. Biasalah anak-anak.”
