CERBUNG HORROR INDONESIA
19px
Kisah NyataPart 01

100 Tahun Setelah Aku Mati

Teman Masa Kecil

Sampul cerita 100 Tahun Setelah Aku Mati

“Kita hidup di dunia yang sama dengan mereka, hanya berbeda dimensi. Percayalah… mungkin mereka ada di sampingmu sekarang.”

Nama saya Rizal. Panggil saja saya dengan nama itu dalam cerita ini. Saya orang Jogja tulen, dan saat ini saya sudah menjadi laki-laki dewasa. Kisah yang akan saya ceritakan adalah awal kehidupan saya yang bisa dibilang merupakan pil pahit yang harus saya telan. Akan ada banyak air mata yang tertumpah, ketakutan yang menggenang, dan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan logika.

Sebaiknya siapkan hati kalian, dan jangan terlalu parno.

Saya Rizal.

Saya seorang INDIGO.

Dan kisah saya dimulai…

Apakah kalian pernah bermain ayunan?

Saat kecil, saya ingat betul ada sebuah ayunan yang dibuat dari ban bekas oleh bapak saya. Ayunan itu diikatkan pada sebuah pohon nangka yang tumbuh di halaman belakang rumah. Setiap pagi dan sore saya sering bermain di sana.

Sendirian.

Karena di tempat tinggal saya waktu itu tidak banyak anak seusia saya.

Sampai suatu hari, ketika saya sedang bermain, tiba-tiba ada yang mendorong ayunan saya perlahan dari belakang.

Saya menoleh.

Di belakang saya berdiri seorang anak perempuan yang kira-kira seusia saya saat itu. Ia tersenyum lalu berkata,

“Aku ikut main ya? Aku sedih main sendiri terus.”

Anak itu memakai baju terusan putih berenda.

“Hayuk… Kamu siapa?” tanya saya dengan suara khas anak usia enam tahun.

“Sari.”

“Oh… ayo main.”

Sejak saat itu kami bermain bersama layaknya anak-anak TK pada umumnya. Sari terlihat seperti anak perempuan biasa. Seingat saya, rambutnya panjang dan kulitnya putih sekali.

Menjelang sore kami duduk di dekat ayunan.

“Aku pulang ya… Ibuku manggil,” katanya.

“Mana? Aku nggak dengar.”

“Kamu belum bisa dengar sekarang. Besok main lagi ya.”

Lalu Sari berlari menuju semak-semak dan entah menghilang ke mana.

Oh iya, saat itu saya tinggal di daerah Semarang karena bapak saya sedang bertugas di sana sebagai anggota angkatan bersenjata. Tempat tinggal kami masih berada di kawasan desa, sehingga rumah-rumah berjauhan satu sama lain.

Tak lama kemudian ibu saya datang dari samping rumah.

“Ayo, Rizal mandi dulu. Tadi main sama siapa?” tanya beliau.

“Sama Sari, Bu.”

“Sari siapa, Nak?”

“Sari ya Sari, Bu.”

Setelah itu kami masuk ke dalam rumah.

Sejak pertemuan saya dengan Sari, perlahan saya mulai merasa bahwa bukan hanya keluarga saya yang tinggal di tempat itu.

Yang aneh, saya hanya bertemu Sari setiap hari Kamis.

Selain hari Kamis, kami tidak pernah bertemu.

Pertemuan kami berlangsung selama beberapa minggu, dan banyak kejadian aneh yang baru saya sadari setelah beranjak lebih dewasa.

Di antaranya, Sari pernah menunjukkan rumahnya kepada saya, tetapi saya tidak melihat apa pun.

Setiap kali ibu saya datang, Sari langsung menghilang dan bersembunyi. Bahkan ibu saya pernah ikut mencarinya, tetapi tidak pernah berhasil menemukannya.

Padahal saya yakin beberapa detik sebelumnya Sari masih berdiri di balik pohon.

Ada hal lain yang juga aneh.

Sari sering memakan bunga.

Ya, bunga melati.

Dimakan mentah begitu saja.

Namun saat itu saya masih anak kecil. Pikiran saya belum sampai sejauh itu. Tidak ada rasa khawatir sedikit pun.

Yang saya tahu hanyalah saya memiliki teman bermain yang menyenangkan.

Berbeda dengan ibu saya.

Beliau mulai merasa khawatir.

Ternyata diam-diam ibu sering mengawasi saya dari kejauhan saat bermain.

Dan apa yang beliau lihat membuatnya terkejut.

Menurut ibu, tidak ada siapa-siapa di sana selain saya.

Beliau hanya melihat saya bermain sendiri.

Berbicara sendiri.

Tertawa sendiri.

Kisah seperti ini ternyata juga banyak dialami oleh anak-anak lain yang memiliki kemampuan khusus seperti saya. Polanya hampir selalu sama. Nanti akan saya ceritakan lebih lanjut.

Hari demi hari berlalu.

Ibu mulai melarang saya bermain lagi dengan Sari.

Namun setiap kali saya diam-diam pergi ke belakang rumah pada hari Kamis, Sari selalu sudah ada di sana.

Kadang ia duduk di ayunan sambil mengayunkannya perlahan.

Kadang ia bersenandung lagu macapat Jawa dengan suara yang lembut.

Setiap kali saya pulang dan mengaku bermain dengan Sari, ibu pasti marah.

Saya tidak mengerti alasannya.

Karena sangat khawatir, ibu akhirnya menyuruh seseorang mencopot ayunan itu dan memindahkannya ke teras depan rumah.

Tetapi usaha itu tidak membuat saya berhenti.

Saya tetap bermain di dekat pohon nangka dan pohon asam Jawa yang tumbuh di belakang rumah.

Untuk apa lagi kalau bukan bermain bersama Sari.

Sampai akhirnya ibu marah besar.

Beliau meminta orang-orang untuk meratakan seluruh halaman belakang rumah dan membersihkannya dari pepohonan.

Awalnya banyak yang tidak setuju.

Rumah yang kami tempati adalah rumah dinas tua, sedangkan pohon-pohon di belakang rumah juga sudah sangat tua.

Orang-orang yang dimintai bantuan pun merasa keberatan.

Tetapi jika ibu sudah memiliki keinginan, beliau akan berusaha mewujudkannya.

Setelah berhasil meyakinkan bapak, pohon-pohon di belakang rumah akhirnya ditebang.

Tanah yang tadinya dipenuhi pepohonan tua kemudian diubah menjadi pelataran yang dilapisi conblock.

Dan di sinilah kisah kelam saya dimulai.

Sebuah kisah yang akan terus mengikuti hidup saya hingga dewasa.