CERBUNG HORROR INDONESIA
19px
Kisah NyataPart 03

100 Tahun Setelah Aku Mati

Teman Misterius

Sampul cerita 100 Tahun Setelah Aku Mati

Brmmm…

Begitu suara mobil Corolla tahun 1991 berhenti di depan garasi rumah kami.

Saya: “Buk, tadi Sari sekolah lho.”

Ibu: “Nak, kamu tahu Sari itu siapa?”

Saya: “Tahu dong, Buk. Sari itu teman aku. Tapi kasihan Sari lho, Buk. Katanya sekarang nggak punya rumah. Terus dia mau nginep sini nanti malam ya? Ya? Ya?”

Saya merayu ibu.

Ibu: “Rizal! Kamu jangan ngaco ngomongnya ya. Udah, sekarang kamu masuk, terus makan. Nanti sore kamu TPA juga kan?”

Saya: “Ibu kok galak sih sama teman Rizal?”

Saya berlari menghambur ke dalam rumah dan masuk ke kamar.

Tampak dari pantulan kaca jendela, ibu seperti menoleh ke kiri dan kanan rumah. Pandangannya menerawang.

Saya masuk kamar dan membanting pintu dengan kesal.

Tapi segera saja senyum saya mengembang.

Saya: “Sari!”

Sari: “Rizal.”

Sari sudah ada di kamar saya. Dia duduk di sebuah kursi di depan kaca sambil mengunyah bunga melati di mulutnya.

Saya: “Kamu lewat mana masuknya?”

Sari: “Lewat jendela.”

Saya: “Kok nggak lewat pintu sih? Kan nggak boleh manjat jendela.”

Sari: “Takut dimarahi ibumu.”

Saya: “Oh iya. Yaudah, ssttt… nanti kamu di sini aja, tapi diam ya. Ibu kok galak ya sama kamu?”

Sari: “Mungkin takut sama aku.”

Saya: “Takut kenapa?”

Sari: “Kamu kenapa nggak takut aku? Anak-anak sekitar sini takut lho sama aku.”

Saya: “Kenapa? Kamu kan temanku. Aku nggak takut.”

Saya masih belum paham dengan apa yang dimaksud Sari.

Sari: “Kamu mau jadi temanku selamanya?”

Saya: “Mau dong!”

Saya dan Sari bermain seperti layaknya anak umur enam tahun.

Kala itu ibu harus kembali ke kantor dan mau tidak mau saya ditinggal di rumah bersama pembantu yang rutin datang untuk membersihkan rumah dan menjaga saya.

Entah kenapa saya lupa, Mbok Nah siang itu harus pulang.

Dan saya harus sendirian.

Tapi saya tidak apa-apa karena sedang asyik bermain bersama Sari.

Saya: “Ri, rumah kamu yang mana sih?”

Sari: “Aku nggak punya rumah sekarang.”

Saya: “Loh kok? Kenapa?”

Sari: “Udah digusur.”

Saya: “Kenapa?”

Sari: “Tanya ibumu aja.”

Saya: “?”

Sari: “Aku dipanggil. Kamu hati-hati ya. Di sana ada yang jahat.”

Sari keluar berlari.

Entah saya yang mengikuti terlalu lambat atau dia memang berlari sangat cepat.

Yang jelas, dia sudah tidak terlihat lagi.

Saya melanjutkan bermain robot-robotan.

Robot yang bisa berjalan sendiri.

Mainan nomor satu pada zamannya.

Robot itu berjalan memasuki kolong tempat tidur.

Saya mencoba meraihnya.

Ah, terlalu jauh.

Tapi…

Seperti berjalan sendiri, mainan itu akhirnya bisa saya raih.

Saya menengok kembali ke bawah kasur.

Deg!

Yang saya lihat bukan kolong berdebu.

Melainkan sesosok perempuan.

Dia tengkurap di bawah tempat tidur.

Matanya terbuka melotot.

Tetapi bola matanya hitam semua.

Mulutnya menganga.

Darah keluar dari mulutnya hingga menggenang di lantai dan seperti membasahi tubuhnya yang sedang tengkurap.

Tangannya berusaha meraih saya.

Ya.

Tangannya meraih saya!

Kalau di film biasanya tokohnya akan lolos.

Tapi maaf.

Saya berhasil diraih.

Saya diseret masuk ke kolong kasur.

Saya melihatnya dari dekat.

Mata itu.

Dan bibir yang seperti berwarna ungu busuk.

Saya masih ingat, makhluk itu memiliki bau yang akan membuat siapa pun muntah.

Saya meronta.

Saya minta tolong.

Tidak.

Tidak ada yang mendengar.

Dan dia meraih saya.

Mencengkeram tangan saya dengan sangat…

Sangat kuat.

Saya ditatapnya dengan tatapan marah.

Saya hanya menangis sekeras mungkin.

Kejadian itu bahkan bisa membuat orang dewasa mengompol.

Saya terlalu kecil untuk mengalami itu.

Saya takut.

Sangat takut.

Kenapa?

Kenapa ini terjadi?

Itulah pertanyaan yang muncul saat saya mengingatnya kembali ketika dewasa.

Makhluk itu tidak melepaskan saya.

Dia membuka mulutnya sangat lebar.

Tepat di depan wajah saya.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara berdenging yang sangat keras.

Suara bernada sangat tinggi.

Saya bingung.

Tetapi entah bagaimana saya seperti mengerti arti suara itu.

Suara itu memanggil makhluk tersebut.

Dia melepaskan tangan dan pundak saya.

Lalu bergerak mundur dengan cara mengesot ke belakang tanpa mengalihkan pandangannya dari saya.

Saya masih menangis.

Dan sampai saya berkedip…

Makhluk itu menghilang.

Bekas noda darah juga tidak ada.

Bahkan debu-debu di bawah tempat tidur menunjukkan bahwa tidak ada jejak apa pun di sana.

Satu-satunya bukti hanyalah saya yang masih tengkurap di kolong kasur.

Dengan tangisan yang keras.

Sampai semuanya menjadi gelap.