CERBUNG HORROR INDONESIA
19px
Kisah NyataPart 03

Jangan Ikuti Aku

Sampul cerita Jangan Ikuti Aku

Sebisa mungkin Ojik menyembunyikan kejadian sore tadi rapat-rapat, baik dari ibunya maupun dari teman-temannya.

Ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah yang dialaminya benar-benar nyata atau hanya ilusi semata.

Mengingat kemampuan istimewa yang perlahan mulai muncul dalam dirinya, Ojik tidak berani membuka mulut.

Terutama tentang…

“Kawan diam” yang berada di bawah pohon tadi.

Menu berbuka sudah tersedia di meja.

Salah satu hidangan yang tersaji adalah makanan favorit Ojik: sayur sup.

Ia menyantapnya dengan lahap, tetapi pikirannya tetap melayang ke kejadian sore tadi.

Siapa yang berbisik kepadanya?

Siapa sosok yang menjadi “kawan diam” di bawah pohon?

Bukankah hitungan dan penyebutan nama teman-temannya sudah benar?

Lalu…

Kenapa Robet bisa menyapanya lebih dulu?

Bukankah baru saja Ojik menemukannya di lapangan?

Kapan Robet pulang?

Bagaimana mungkin Robet bisa sampai lebih dulu dan bertemu dengannya di jalan?

Jangan-jangan…

“Nak, dihabisin, ya. Jangan sampai nggak,” pinta ibunya sambil menyendokkan kuah sup ke dalam piring Ojik.

“Eh? Iya, Buk. Aku habisin, kok. Ini enak banget, kayak biasanya.”

Ojik tersadar dari lamunannya.

“Hmm… Buk.”

“Iya?”

“Tadi betul si Robet, kan? Teman aku?”

“Iya, betul. Tadi itu Robet. Memangnya kenapa, Nak?” Ibunya mulai terlihat curiga.

“Bukannya tadi main sama kamu di lapangan?”

“I-i-iya… iya, kok. Tadi main bareng.”

Ojik tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.

“Hehe…”

Setelah menghabiskan semangkuk sup, Ojik bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu.

“Bismillah… nawaitu…” ucapnya lirih sembari memutar keran.

Namun baru saja air mengalir…

“Astaghfirullah!”

Ojik berteriak kaget.

“Nak! Ada apa?!” teriak ibunya dari ruang makan.

“Gak apa-apa, Buk! Ini… aku hampir kepleset.”

“Wealah, hati-hati, Nak. Licin.”

“Iya, Buk…”

Ojik terdiam.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Tangannya seperti tidak sedang memegang gagang keran.

Sensasinya lebih mirip seperti menyentuh tangan seseorang.

Dingin.

Sangat dingin.

Tidak bertekstur seperti kulit manusia.

Lembut…

Namun dinginnya menusuk.

Ojik hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya baru saja ia sentuh.

Kamar mandi itu hanya diterangi cahaya lilin yang membuat bayangan di sekelilingnya terlihat samar.

Ia tidak ingin mengalami hal-hal yang lebih aneh.

Maka Ojik segera melanjutkan wudunya dan bergegas keluar.

Namun baru saja ia berbalik dan melangkah…

Sebuah benda berbentuk bulat menggelinding tepat di depannya.

“…”

Ojik menahan napas.

“Astaghfirullah… tikus!”

Ia mencoba berpikir positif.

Meskipun dalam hati ia tahu…

Tikus tidak mungkin mengeluarkan bau anyir seperti itu.

Ojik segera meninggalkan kamar mandi dan beralih menuju ruang salat.

Selesai salat Magrib, Ojik melanjutkannya dengan mengaji.

Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari.

Terlebih lagi, ibunya adalah seorang guru mengaji.

Kalau sampai ia melewatkan mengaji, ibunya pasti akan mengomel panjang lebar.

Selain itu, Ojik merasa mengaji bisa menjadi salah satu cara untuk membentengi dirinya.

Terutama setelah kemampuan istimewanya mulai muncul.

Walaupun ia belum benar-benar memahami amalan apa saja yang harus dilakukan agar terhindar dari gangguan makhluk seperti yang dialaminya.

Ojik membuka Al-Qur’an dan mulai membaca beberapa ayat.

Namun tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalanya.

“Loh… iya.”

Ia menghentikan bacaannya.

“Kemarin kan aku nggak ada janji sama kawan-kawan.”

Ojik mulai mengingat kejadian sebelumnya.

“Selesai tarawih kan cuma jajan, habis itu pulang.”

Ia terdiam.

Matanya perlahan membesar.

“Berarti… bener dong tadi itu…”

Hening.

Kemudian…

“Iiiiyyyyyaaaaa… beeenaaarrrr…”

Sebuah bisikan lirih terdengar.

Ojik membeku.

Dari arah luar terdengar suara benda menggelinding.

Glundung…

Glundung…

Glundung…

“Buk! Buk!”

Ojik langsung berteriak panik.

“Iya? Ada apa?”

Suara ibunya terdengar dari kejauhan.

Ojik menelan ludah.

“Yasudah, Buk… nggak apa-apa, kok!”

Ia mencoba terdengar tenang.

Padahal jantungnya berdegup begitu kencang.

Ojik kembali melanjutkan bacaannya.

Beberapa rukuk ia selesaikan dengan susah payah.

Setelah selesai mengaji, ia merapikan tempat salat lalu berjalan menuju ruang tamu.

“Buk… Buk!”

Ia memanggil ibunya.

Tidak ada jawaban.

“Ibu mana, ya?”

Ojik menggaruk-garuk tubuhnya karena belum sempat mandi.

“Perasaan tadi Ibu jawab…”

Tiba-tiba…

Tok… tok… tok…

Suara ketukan terdengar dari pintu depan.

“Assalamu’alaikum.”

Suara ibunya terdengar dari luar.

“Wa’alai…”

Salam Ojik terhenti.

Ibunya membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

“Nak, salam Ibu kok nggak dijawab?”

Tangannya mengelus kepala Ojik.

Ojik hanya terdiam.

Kemudian ia menjawab dengan sigap.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Ojik menatap ibunya dengan wajah penuh kebingungan.

“Habis dari mana, Buk?”

“Loh, kan tadi sore setelah salat Asar, waktu kamu mau pergi ke lapangan, Ibu sudah bilang.”

Ibunya kemudian mengingatkan.

“Nak, habis Asar Ibu ke rumah Bu RT, ya. Nanti Ibu pulangnya agak telat.”

“Tapi Ibu sempat masak, supaya waktu kamu pulang dan Ibu belum ada, kamu bisa buka puasa sendiri.”

Ojik terdiam.

Kalimat itu…

Persis seperti yang ia dengar beberapa saat lalu.

“I-i-iya sih, Buk…”

Wajah Ojik mulai berubah.

“Terus… yang tadi?”

Ia menunjuk ke arah tempat suara ibunya terdengar sebelumnya.

Ibunya mengerutkan kening.

“Tadi siapa?”

Ojik tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Karena sekarang ia mulai menyadari satu hal.

Yang menjawab panggilannya tadi…

Bukan ibunya.