Ojik berlari terbirit-birit.
Namun ia tidak berteriak.
Ia takut suara jeritannya akan membuat gaduh dan mengundang amarah para tetangga.
Pikirannya berkecamuk.
Ia terus mencoba memastikan apa yang baru saja dilihatnya.
Setengah percaya…
Setengah tidak.
Tubuhnya gemetar.
Keringat bercucuran.
Mulutnya terasa kelu.
Ia tidak ingin mengalami kejadian seperti sebelumnya.
Maka Ojik mempercepat langkah.
Ia hanya ingin segera pulang.
Berlindung di dekat orang tuanya.
Tok… tok… tok…
Tok… tok… tok…
“Assalamu’alaikum, Buk! Pak! Ini Ojik!”
Tangannya mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.
“Duh, Ibu sama Bapak ke mana sih?”
“Ojik takut, nih!”
Tidak ada jawaban.
Tok… tok… tok…
Tok… tok… tok…
“Assalamu’alaikum, Buk! Pak! Ini Ojik!”
Kali ini Ojik mengulanginya dengan suara lebih keras.
“Iya… sebentar. Sabar.”
Suara ibunya terdengar dari dalam rumah.
Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.
Suaranya…
Berbeda.
“Heee… heee… Ojik takut, Buk.”
Ojik mengadu kepada ibunya.
Namun ibunya tidak menjawab.
Ia hanya diam.
Karena terlalu dikuasai rasa takut, Ojik tidak terlalu memedulikan sikap ibunya yang terasa aneh.
Ia masuk ke ruang makan.
Di sana, ayahnya sudah duduk.
Ojik tidak langsung makan.
Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Tergesa-gesa.
Setelah selesai, ia kembali ke ruang makan dan duduk di kursi.
Menunggu ibunya mengambilkan makanan.
Beberapa menit berlalu.
Ojik hanya diam.
Perutnya sudah keroncongan.
Rasa takut masih menghantui pikirannya.
Akhirnya ia tidak sabar.
Kali ini ia mengambil makanan sendiri.
Dua entong nasi.
Beberapa sendok sayur.
Sepotong ikan pindang.
Dan tentu saja…
Sebuah kerupuk kesayangannya.
Ojik mulai makan dengan lahap.
Ia tidak terlalu memperhatikan gelagat aneh kedua orang tuanya.
Ibu dan bapaknya sibuk dengan makanan masing-masing.
Nasi terasa hangat.
Namun suasananya begitu senyap.
Ojik mencoba berpikir positif.
Mungkin mereka sedang ada masalah.
Atau mungkin mereka sedang marah kepadaku.
Tapi…
Kalaupun sedang ada masalah.
Kalaupun sedang marah.
Tidak mungkin sesunyi ini.
Ojik berusaha mengabaikan kecurigaannya.
Ia terus makan.
Tanpa terasa, makan sahurnya pun habis.
Ternyata ia menghabiskan makanan ditemani lamunan panjang.
Tidak ingin memperburuk suasana, Ojik segera mencuci piring setelah selesai makan.
Kemudian bersiap untuk tidur.
Tidur?
Ya.
Kedua matanya terasa begitu berat.
Tubuhnya mendadak lemah.
Lesu.
Seolah seluruh tenaga yang dimilikinya telah habis.
Ojik bergegas menuju kamar.
Ia menyetel jam weker kesayangannya.
Lalu…
Terlelap.
Pagi Hari
Sang fajar mulai menunjukkan cahayanya.
Sinar matahari perlahan menyebar.
Udara dingin selepas Subuh berganti menjadi hangat yang perlahan menyengat.
Di sebuah lapangan…
“Loh, itu kan anaknya Bu Ahmad, guru ngaji RT sebelah. Iya, kan, Bu?”
Seorang ibu paruh baya menunjuk ke arah seseorang yang terbaring di lapangan.
“Eh, iya… benar, Bu.”
Temannya ikut memperhatikan.
“Lha, kok malah tidur di lapangan? Ini bagaimana, toh?”
“Lha, ya nggak tahu saya, Bu. Kan dari tadi sama sampeyan.”
Ia berpikir sejenak.
“Mungkin dia diusir…”
“Eh, tapi…”
“Ngawur!”
Temannya langsung memotong.
“Ya nggak mungkin Pak Ahmad sama Bu Ahmad kayak begitu.”
Ia menghela napas.
“Sudah. Samperin saja. Kita antar pulang.”
Beberapa saat kemudian…
“Assalamu’alaikum, Bu Ahmad.”
Seorang ibu paruh baya berdiri di depan rumah sambil membopong tubuh Ojik.
Tubuh bocah itu cukup berat karena perawakannya yang bongsor.
“Yuhuuu… sepadaaaaa!”
Temannya berseru dengan polos.
“Wa’alaikumsalam.”
Suara Bu Ahmad terdengar dari dalam rumah.
Klek!
Pintu terbuka.
“Wa’alaikumsalam…”
Bu Ahmad langsung terkejut.
“Innalillahi!”
Matanya membesar melihat anaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Anak saya kenapa ini, Bu?”
“Ya Allah…”
Bu Ahmad segera maju dan menerima tubuh Ojik.
“Awas, pelan-pelan, Bu.”
Ibu paruh baya itu menyerahkan Ojik dengan hati-hati.
Bu Ahmad memeluk anaknya.
“Jadi begini, Bu…”
Ibu paruh baya tersebut mulai menjelaskan apa yang mereka temukan pagi itu.
Dan saat itulah…
Satu pertanyaan besar akhirnya muncul.
Bagaimana mungkin Ojik bisa berada di lapangan?
Padahal…
Malam itu ia merasa sudah pulang ke rumah.
Ia merasa sudah sahur bersama kedua orang tuanya.
Ia bahkan merasa sudah tidur di kamarnya sendiri.
Lalu…
Siapa yang sebenarnya menyambut Ojik ketika ia pulang?
Siapa yang duduk bersamanya saat sahur?
Dan yang paling mengerikan…
Kalau Ojik benar-benar tidur di lapangan sejak malam…
Lalu siapa yang selama ini ia kira sebagai kedua orang tuanya?
Tamat
Note: Ada yang bisa menebak kenapa Ojik bisa berada di lapangan?
