CERBUNG HORROR INDONESIA
19px
Kisah NyataPart 04

Jangan Ikuti Aku

Sampul cerita Jangan Ikuti Aku

“Hmm… oh iya, Buk. Masakannya enak banget, seperti biasanya.”

Ojik tertawa kecil.

Ia tetap menyembunyikan rasa takut yang sebenarnya masih membekas.

Ada satu alasan kenapa ia memilih diam.

Ia tidak ingin kedua orang tuanya tahu.

Entah kenapa, Ojik merasa jika mereka mengetahui apa yang sebenarnya ia alami, semuanya justru akan menjadi lebih buruk.

“Bapak ke mana, ya, Buk?” tanya Ojik sambil celingukan.

“Tadi Ibu di-SMS Bapak. Katanya pulang telat, masih ada urusan di sekolah.”

“Oh… yaudah deh kalau gitu. Aku ke masjid dulu, ya, Buk. Main sama teman-teman sekalian nunggu salat Isya dan tarawih.”

Ojik meraih tangan ibunya.

“Iya, Nak. Hati-hati, ya. Nanti Ibu nyusul.”

“Oke, Buk. Assalamu’alaikum.”

Ojik pergi sambil melambaikan tangan.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati!”

Di Masjid

“Jik, nanti ikut bangunin orang waktu sahur, yuk.”

Salah satu temannya mengajak.

“Hmm… aku minta izin dulu, ya, sama Ibu dan Bapak.”

“Oke deh. Nanti kalau dibolehin, langsung kumpul di sini aja.”

“Oke!”

Kali ini Ojik menjawab dengan girang.

Malam itu berlalu dengan cepat.

Setelah salat tarawih, Ojik dan teman-temannya tidak melanjutkan kebiasaan bermain seperti biasanya.

Mereka sudah membuat janji untuk mengikuti tekturan, yaitu kegiatan membangunkan warga ketika waktu sahur tiba.

Karena itu, mereka sepakat untuk segera pulang dan tidur lebih awal agar tidak mengantuk saat waktunya berkeliling.

Sekitar pukul tiga dini hari…

Suara ayam berkokok terdengar sangat keras di dekat rumah Ojik.

Rumah Ojik dikelilingi tembok rumah warga di sisi kanan, kiri, dan belakang.

Setelah dibangunkan oleh ibunya, Ojik segera bersiap.

Dengan mata yang masih berat karena mengantuk, ia berjalan menuju teras rumah.

Namun, baru saja sampai di sana…

Ojik terdiam.

Ayam yang tadi berkokok begitu keras ternyata berada tidak jauh dari teras.

Ada sesuatu yang aneh dari ayam itu.

Matanya.

Ojik tidak menemukan sepasang mata seperti yang seharusnya dimiliki seekor ayam.

Yang terlihat justru seperti lubang hitam.

Di sekelilingnya berlumuran darah.

Ojik membeku.

Jantungnya berdegup kencang.

Tanpa banyak berpikir, ia langsung berlari meninggalkan rumah.

Ia tidak peduli lagi dengan rasa kantuknya.

Yang ada di pikirannya hanya satu.

Pergi.

Napas Ojik tersengal-sengal ketika akhirnya sampai di titik kumpul.

“Jik, kamu kenapa?” tanya teman yang mengajaknya tadi malam.

“Gak apa-apa, kok. Aku latihan lari. Olahraga kecil-kecilan.”

Ojik menjawab sambil terengah-engah.

“Oh.”

Temannya hanya mengangguk.

Ojik melihat sekeliling.

“Kok masih sepi? Yang lainnya mana?”

“Masih ambil alat di belakang masjid.”

Temannya menunjuk ke arah belakang masjid.

“Kamu tunggu di sana, ya. Aku susul mereka.”

Ia kemudian menunjuk sebuah rumah di dekat masjid.

Di rumah itu tinggal seorang takmir atau pengurus masjid.

Di depannya terdapat sebuah lincak, kursi panjang yang terbuat dari bambu.

Ojik pun duduk di sana.

Menunggu.

Dengan rasa takut yang begitu kuat, Ojik memaksa dirinya untuk tetap berani.

Biasanya, takmir masjid sudah bersiap membangunkan warga ketika waktu sahur tiba.

Namun malam itu…

Yang terdengar hanya keheningan.

Sebenarnya Ojik bisa saja mengetuk pintu rumah takmir dan meminta ditemani.

Tapi entah kenapa ia merasa tidak enak hati.

Sekali lagi, ia memaksa dirinya untuk berani.

Sepuluh menit berlalu.

Temannya belum juga kembali.

Ojik mulai lelah.

Ia hanya ingin merebahkan tubuh untuk sekadar beristirahat sekaligus menahan dinginnya udara pagi.

Tanpa disadari…

Lama-kelamaan matanya terpejam.

Ojik tertidur.

Entah berapa lama kemudian, Ojik terbangun karena merasakan seseorang menggoyangkan tubuhnya.

“Jik…”

Ojik membuka mata.

Seorang takmir masjid sedang membangunkannya.

“Loh, Ojik? Kok di sini sendirian?”

“Iya, Pak. Saya nungguin teman saya yang ambil alat tekturan di belakang masjid.”

Ojik menjawab sambil mengucek matanya.

“Oh…”

Takmir itu tampak berpikir.

“Tapi saya tadi dengar sepertinya teman-teman kamu sudah berangkat tekturan.”

Ojik langsung terkejut.

“Loh, iya, Pak?”

Ia mulai sadar.

“Berarti saya ditinggalin?”

“Iya, mungkin mereka kasihan kamu masih ngantuk. Daripada mengganggu kamu, mungkin mereka membiarkan kamu tidur.”

“Iya juga, ya, Pak.”

Ojik berusaha tersenyum.

Ia berdiri dan membersihkan pakaiannya.

“Ya sudah, Pak. Saya pamit mau sahur dulu.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Takmir masjid itu menatap Ojik dengan heran.

Dalam hati ia bertanya-tanya…

Bagaimana anak sebesar itu bisa berani menunggu sendirian di luar rumah pada waktu seperti ini?

Dengan rasa kecewa dan sedikit rasa acuh karena sudah terbiasa ditinggalkan teman-temannya, Ojik akhirnya berjalan pulang.

Namun ketika sampai di pertigaan gang dekat masjid…

Tiba-tiba terdengar suara.

Glunduuung…

Ojik berhenti.

Glunduuung…

Suara itu semakin dekat.

Glunduuung…

“Allahuakbar!”

Ojik berteriak spontan.

Ia tidak berani melihat benda yang menggelinding tersebut lebih lama.

Ia langsung berlari.

Namun dari sudut matanya…

Ojik sempat melihat sesuatu.

Sebuah benda bulat.

Menyerupai kepala manusia.

Dan yang paling mengerikan…

Benda itu seperti sedang tersenyum lebar.

Ojik terus berlari.

Tanpa berani menoleh lagi.