CERBUNG HORROR INDONESIA
19px
Kisah NyataPart 02

Jangan Ikuti Aku

Sampul cerita Jangan Ikuti Aku

Tiap kali bermain bersama kawan-kawan sepermainannya, Ojik selalu saja menyebutkan hal-hal yang sulit dinalar.

Seperti ketika ia tiba-tiba menunjukkan firasat bahwa salah satu temannya akan terjungkal lima detik kemudian karena menyandung sebuah “rumah” milik makhluk astral yang merasa terusik.

Atau ketika ia mencium bau anyir yang begitu menyengat, padahal saat itu ia sedang berada di sebuah rumah makan untuk berbuka puasa.

Dan yang paling parah…

Hari itu.

Seusai salat Asar, Ojik bersama kawan-kawannya berkumpul di lapangan.

Seperti biasa, Ojik selalu menjadi korban.

Ia harus menjadi penjaga dalam permainan petak umpet.

Baik di awal maupun di akhir permainan, entah kenapa selalu Ojik yang mendapat giliran menjaga. Tidak pernah berganti.

Sebagai anak pindahan yang masih terbilang baru, Ojik hanya menerimanya tanpa protes.

Ia pun berdiri di tempat biasa.

Hitungannya menggema ke seluruh penjuru lapangan.

“Satu… dua… tiga…”

Perlahan ia menghitung sambil menutupi kedua matanya.

Hingga akhirnya hitungan selesai.

Ojik membuka kedua tangannya.

Dan…

Hening.

Suasana di sekitar lapangan mendadak terasa begitu senyap.

Dari bawah dua pohon talok yang membentuk semacam gawang, Ojik mulai berjalan menyusuri lapangan.

Lapangan itu tandus. Hanya ada beberapa ornamen ban bekas, sisa potongan dari pabrik yang berada tidak jauh dari sana.

Lapangan tersebut terletak di perbatasan antara dua rukun tetangga dan menjadi penghubung antarwilayah.

Di salah satu sisinya berdiri sebuah pabrik pembuatan ban.

Setiap sore, pabrik itu selalu kosong.

Pintu gerbang sudah ditutup sejak siang hari. Hanya tersisa seorang karyawan yang bertugas menyapu dan memastikan pekerjaan terakhir telah selesai.

Setelah itu, ia pun langsung pulang ke kampung halamannya.

Artinya…

Tersisa Ojik seorang diri.

Aturan permainan sebenarnya sederhana.

Ia hanya perlu menjaga tempat awal dan menemukan teman-temannya yang bersembunyi.

Namun, bagi Ojik, semuanya tidak sesederhana itu.

Semenjak tanda-tanda keistimewaan itu mulai muncul, menyusuri suatu tempat seorang diri menjadi perkara yang sangat menakutkan.

Sebab ketika ia mencari kawan-kawannya…

Bisa saja yang ditemukan bukan sosok manusia.

Melainkan makhluk astral yang sedang gentayangan.

Dan itulah alasan utama mengapa Ojik selalu menjadi korban dalam permainan.

Tiba-tiba…

“Diaaa… ada di sanaaaahhh…”

Sebuah bisikan pelan terdengar.

Ojik menghentikan langkah.

“Satu lagi… ada di sanaaaahhh…”

Bisikan itu terdengar lagi.

Tubuh bongsornya mendadak bergidik.

Bulu kuduknya meremang seakan baru saja melihat seekor ular derik.

Tubuhnya gemetar.

Pikirannya mulai kacau.

Namun, Ojik berusaha untuk tidak terpengaruh oleh bisikan tersebut.

Sampai akhirnya…

“Diaaaaa… di sanaaaa…”

Kali ini bisikan itu terdengar lebih jelas.

Lebih tegas.

Entah kenapa, Ojik seperti terpaksa menuruti suara tersebut.

Ia berlari kecil.

Anehnya, untuk pertama kalinya Ojik merasa begitu berani dan lincah.

Seolah ada sesuatu yang memberinya semangat dan menguasai tubuhnya.

Ia terus berlari kecil dengan hati-hati agar teman-temannya tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian bisikan itu kembali terdengar.

“Iyaaaa… benarrrr… di situuuu…”

Ojik berhenti.

Ia melihat ke arah yang ditunjukkan oleh bisikan tersebut.

Dan benar saja.

Tanpa ekspresi terkejut sedikit pun, Ojik menunjuk salah satu kawannya.

“Ketemu!”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari menjadi penjaga, Ojik berhasil menemukan salah satu temannya.

Biasanya, permainan akan berakhir ketika waktu sudah mendekati berbuka.

Terdengar teriakan dari salah satu anak yang menyerah.

“Keluarrrr! Aku menyerah!!!”

Jika beruntung, teman-temannya akan perlahan menampakkan diri.

Namun jika tidak…

Permainan bisa berakhir sampai waktu berbuka dan Ojik harus dihampiri ibunya karena ditinggal pulang oleh teman-temannya.

Tapi hari itu berbeda.

Terasa begitu mudah.

Satu per satu kawannya berhasil ditemukan.

Mungkin memang hari itu adalah hari keberuntungannya.

Atau mungkin…

Bisikan entah dari mana itu benar-benar membantu Ojik menemukan mereka.

Setelah merasa semua kawannya telah ditemukan, Ojik menghitung mereka satu per satu dari sebelah kanan.

Mereka berkumpul di bawah dua pohon talok.

Lengkap.

Tidak ada yang tertinggal.

Namun, ada sesuatu yang terasa aneh.

Kenapa semua kawannya hanya diam?

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang mengumpat seperti biasanya ketika Ojik berhasil menemukan mereka.

Biasanya mereka akan kesal karena persembunyian mereka berhasil diketahui.

Tapi kali ini…

Mereka hanya diam.

Mungkin karena terlalu kesal.

Mereka sudah berpencar dan bersembunyi di berbagai tempat, tetapi Ojik berhasil menemukan semuanya tanpa melewatkan satu pun.

Adzan Magrib akhirnya berkumandang.

Pertanda waktu berbuka telah tiba.

Tak terasa, sudah berjam-jam Ojik berada di lapangan.

Ia tersenyum puas.

Hari itu ia berhasil menemukan semua kawannya.

“Hebat juga aku hari ini,” pikir Ojik.

Ia sama sekali tidak menghiraukan wajah masam teman-temannya yang berdiri di bawah pohon talok.

Beberapa menit kemudian, ibunya datang menjemput.

“Kok masih di sini, Nak? Ditinggal teman-teman lagi, ya?” tanya ibunya.

“Nggak kok, Buk. Mereka udah aku temuin semua. Tuh, semuanya di situ.”

Ojik menunjuk ke arah kedua pohon talok.

Di sana, beberapa anak terlihat berkumpul.

Diam.

Tidak bergerak.

“Hmm… udah kumpul?” Ibunya celingukan. “Mana sih, Nak? Ibu nggak lihat teman-teman kamu.”

Ojik terdiam.

“Tapi… ada.”

Ia menatap kembali ke arah pohon talok.

Teman-temannya masih ada di sana.

Setidaknya…

Menurut penglihatannya.

“Oh iya, tadi teman-teman udah pamit pulang,” ucap Ojik spontan sambil terkekeh.

“Oh, gitu?” tanya ibunya dengan wajah kebingungan.

“Iya, Buk. Aku lupa. Soalnya aku senang banget hari ini. Berhasil nemuin mereka semua, teman-temanku. Padahal mereka ngumpetnya nyebar, loh.”

Ojik menceritakannya dengan penuh semangat, meskipun di dalam hatinya mulai muncul keraguan.

“Yaudah, deh. Senangnya dilanjut di rumah aja, ya. Kita belum buka puasa.”

“Iya, Buk. Ayo pulang.”

Dalam perjalanan pulang, Ojik menceritakan kejadian hari itu secara detail.

Mulai dari teman pertama yang ia temukan hingga teman terakhir.

Ibunya hanya mengangguk sesekali.

Ia berusaha menghargai perasaan anak semata wayangnya yang akhirnya bisa akrab dengan teman-teman barunya.

Namun, jauh di dalam hati Ojik, muncul sebuah pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

“Ibu benar-benar nggak lihat mereka?”

“Teman-temanku yang berkumpul di bawah pohon tadi…”

Pertanyaan itu hanya ia simpan dalam hati.

Hingga ketika mereka hampir sampai di rumah, tepat saat berbelok di perempatan gang terakhir…

“Tante! Ojik dari mana?” tanya Robet.

Robet adalah salah satu teman Ojik.

Bahkan…

Robet adalah teman pertama yang berhasil Ojik temukan saat bermain petak umpet tadi.

Ibu Ojik menghentikan langkah.

“Eh, Robet. Bukannya tadi kamu main sama Ojik?”

“Nggak, Ta—”

“Aaanuu, Buk!” potong Ojik cepat.

Ia langsung menarik tangan ibunya.

“Kita belum buka puasa, loh. Aku udah laper.”

“Eeeh… iya, iya.”

Ibu Ojik kembali menatap Robet.

“Tante duluan, ya, Robet. Daaah.”

“Assalamu’alaikum.”

Ojik dan ibunya melanjutkan perjalanan.

Sementara Robet hanya berdiri diam.

Menatap mereka pergi.

Dengan wajah bingung.

Karena sejak sore tadi…

Robet tidak pernah bermain petak umpet bersama Ojik.